Blog Cerdas Yang Informatif

Blog Cerdas Yang Informatif

Rabu, 30 Maret 2016

Konsep Culture-Based Education System; Sistem Pendidikan Berbasis Budaya Lokal sebagai solusi Mengatasi Degradasi Budaya pada Peserta Didik Kabupaten Sumenep



Konsep Culture-Based Education System; Sistem Pendidikan Berbasis Budaya Lokal
sebagai solusi Mengatasi Degradasi Budaya pada Peserta Didik Kabupaten Sumenep

Oleh :
Urip Prayitno
Ketua Bidang Pembinaan Anggota HMI Cabang Sumenep
uriptobat@gmail.com – 085230790571 – 5E110122

ABSTRAK
Kabupaten Sumenep sebagai kota budaya, seiring perkembangan teknologi informasi yang membawa virus westernesasi mengalami degradasi pada sektor kebuyaannya. Sudah banyak aset-aset budaya yang mulai punah, bahkan seakan-akan masyarakat Sumenep mulai kehilangan jati diri budaya lokalnya. Kondisi kepunahan budaya ini dialami oleh seluruh lapisan masyarakat Sumenep tanpa terkecuali element peserta didik. Lebih parah lagi mayoritas peserta didik sudah bergaya kebarat-baratan yang seakan-akan sudah pudar nilai-nila kultur pada peserta didik dikabupaten Sumenep. Ditambah lagi penerapan pendidikan selama ini hanya berfokus pada aspek kecerdasan intelektual, emosional dan spritual dengan meninggalkan satu aspek penting yang berupa kecerdasan cultural.
Dengan kondisi ini perlu merevitalisasi fungsi pendidikan sebagai media awal menanamkan pemahaman budaya lokal terhadap peserta. Namun secara fundamental tidak hanya pada dimensi penerapannya, perlu ada serangkaian konsep sistem pendidikan. Dalam tulisan ini ditawarkan suatu gagasn sistem pendidikan berbasis budaya lokal yaitu konsep “Culture-Based Education System”. Konsep sistem ini dalam langkah-langkah perumusannya mengacu pada berbagai aspek kebudayaan khususnya kebudayaan Sumenep, mulai dari perumusan sarana prasanan pendidikan,  Perumusan Aturan Etika /Gaya Hidup Peserta didik, Perumusan Aturan Penggunanan Bahasa Keseharian Peserta didik, Perumusan Aturan Berpakaian Peserta didik diakhir pekan, Hingga pada Perumusan Kurikulum berbasis Budaya Lokal.
Dalam langkah perumusan dan penerapan konsep Culture-Based Education System ini perlu bantu berbagai pihak yang meliputi pertama peserta didik sebagai objek penerapan untuk dapat berpartisipasi baik serta membantu mensukseskan dan  mematuhi peraturan yang dibangun dalam Konsep Culture-Based Education System ini, yang kedua pemerintah kabupaten Sumenep dalam hal ini dinas pendidikan untuk serius mulai dari penyusunan kurikulum, sosialisasi hingga pada  kontrol penerapannya.


Kata Kunci : Budaya, Culture-Based Education System, Peserta Didik, Pendidikan



Konsep Culture-Based Education System; Sistem Pendidikan Berbasis Budaya Lokal
sebagai solusi Mengatasi Degradasi Budaya pada Peserta Didik Kabupaten Sumenep

Oleh :
Urip Prayitno
Ketua Bidang Pembinaan Anggota HMI Cabang Sumenep
uriptobat@gmail.com – 085230790571 – 5E110122

ABSTRAK
Sumenep as a city of culture, as the development of information technology brings westernesasi virus degrades in kebuyaannya sector. There have been many cultural assets that became extinct, even as if society Sumenep began to lose its local cultural identity. This cultural extinction conditions experienced by all people without exception Sumenep element learners. Worse yet the majority of learners already Westernized style that seemed to have faded indigo cultural values ​​on the learner dikabupaten Sumenep. Plus the implementation of education has been only focusing on the intellectual, emotional and spiritual to leave one important aspect in the form of cultural intelligence.
With this condition need to revitalize the function of education as early media cultivate an understanding of the local culture of the participants. But fundamentally not only on the dimensions of the application, there needs to be a series of educational system concepts. In this paper offered a gagasn local culture-based education system, namely the concept of "Culture-Based Education System". The concept of this system in a step-by-step formulation refers to the various aspects of culture, especially the culture Sumenep, ranging from formulation means prasanan education, formulation of rules Ethics / Lifestyle Learners, formulation of rules of use of the English Daily Learners, formulation of rules Dressed Learners end of the week, Up the formulation of curriculum-based Local Culture.
In step formulation and application of the concept of Culture-Based Education System, the need to help the various parties that includes the first learners as the object of the application to be able to participate as well as help to succeed and abide by the rules that are built in the Concept Culture-Based Education System, which both governments Sumenep in this department education to seriously start preparing the curriculum, socialization to the control application.


Keywords: Culture, Culture-Based Education System, Students, Education





PENDAHULUAN
Kultur merupakan suatu kebiasan masyarakat dimasa lalu yang disepakati sebagai sistem kehidupan dalam suatu daerah, atau dengan kata lain kultur merupakan identitas suatu daerah yang lahir pada sejarah (Van Peursen, 1985). Diketahui di setiap daerah memiliki kultur masing-masing yang bermacam-macam dan berbeda sesuai denan kondisi dan sejarah tiap daerah itu tersendiri. Kultur mencakup berbagai aspek kehidupan yang meliputi ; Gaya hidup, cara berpakaian, jajanan daerah, bahasa serta adat istiadat suatu daerah.
Sumenep merupakan suatu kabupaten yang terletak dibagian paling timur pulau Madura. Kabupaten sumenep terkenal dengan berbagai aspek kultur yang unik dan menarik. Mulai dari adat istiadatnya, misalnya Sape Sonok, Petik Laut, Rokat Tasek, Nyadar. Cara berpakaiannya; Pakaian Tebbek Bersampir, Bersarung dengan Batik. Sastra Sumenep; Ludruk Sumenep, Tandek Sumenep, Jajanan Lokal, Misalnya; Soto Sumenep, Apen Selong, Tegette. Gaya hidup atau sistem etika masyarakat sumenep yaitu kalau orang menunduk, orang sumenep akan lebih menunduk. Jika ada orang congkak maka orang sumenep bisa bersikap lebih dari orang tersebut, “Apello Koning”, “Asapok Ombek”, dll. Hingga pada segi tata bahasa dengan bahasa Maduranya yang dinilai bernada paling halus dibandingkan dengan 3 kabuten lainnya di pulau Madura (http://www.sumenep.go.id). Namun seiring dengan perkembangan zaman berbagai aspek kultur tersebut mengalami degradasi yang sangat memprihatinkan. Penerapan kultur tidak lagi dilakukan diberbagai lapisan masyarakat temasuk juga pada kaum-kaum pelajar/ peserta didik dikabupaten Sumenep.
Peserta didik pada khususnya di Sumenep dalam dunia global saat ini dituntut memiliki berbagai aspek kecerdasan agar mampu bersaing yang meliputi kecerdasan intelektual, kecerdasan spiritual, kecerdasan emosional serta kecerdasan social. Namun aspek kecerdasaan tersebut menjadi tidak sempurna jika tidak dilengkapi dengan aspek kecerdasan cultural.
Dengan melihat tuntutan-tuntutan pemenuhan beberapa aspek kecerdasan diatas maka pendidikan di Sumenep dirasa sangat perlu untuk menerapkan suatu sistem pendidikan yang dapat memenuhi 5 konsep kecerdasan diatas. Apalagi sebagai kabupaten sumenep dikenal sebagai kabupaten yang sangat kekuatan dan keragaman budayanya yang sebenarnya akhir-akhir ini menalami pemunahan. Secara penerapan sistem pendidikan di Sumenep telah memenuhi beberapa aspek kecerdasan diatas namun tidak pada segi kecerdasan cultural. Pendidikan di Sumenep dinilai belum melaksanakan penerapan sistem yang mengarah terhadap perkembangan kecerdasan kultur pada peserta didiknya. Peserta didik cenderung bersifat dan bersikap kebarat-baratan, hal ini depengaruhi oleh pengaruh keterbukaan informasi yang dibingkis dengan westernesasi. Maka dari itu perlu adanya bangunan sistem yang dapat merevitalisasi kembali kebudayaan lokal pada sistem pendidikan khususnya di Sumenep.
Maka disini kami mencoba memberikan solusi penerapan sistem yang berbasis kultur yaitu berupa rumusan penerapan sistem pendidikan yang berbasis kultur khususnya kultur lokal (Kabupaten Sumenep). Sehingga kultur yang telah mengalami degradasi dapat direvitalisasi kembali khususnya di kalangan peserta didik kabupaten Sumenep.

TUJUAN DAN MANFAAT PENULISAN
Tujuan dari penulisan karya tulis ini yaitu :
1.      Mengetahui dan memahami kondisi peserta didik dalam aspek pemahaman kultur Kabupaten Sumenep.
2.      Mengatasi masalah degradasi pemahamanan peserta didik terdadap budaya lokal Sumenep.
3.      Untuk menganalisa model atau konsep sistem pendidikan yang berbasis kultur di Sumenep sebagai solusi degradasi pemahamanan peserta didik terdadap budaya lokal Sumenep.
4.      Menerapkan solusi berupa kosep sistem pendidikan berbasis kultur sebagai solusi degradasi pemahamanan peserta didik terdadap budaya lokal Sumenep.

Adapun Manfaat yang diberikan dalam penulisan karya tulis ini yaitu :
1.      Manfaat Teoritis
Sebagai bahan kajian Pihak pemangku kebijakan pendidikan di kabupaten Sumenep dalam mengelelola sistem pendidikan demi perekembangan peserta didik yang berlandaskan kultur lokal Sumenep.
2.      Manfaat Praktis
a.       Bagi penulis
Menumbuhkan Wawasan Pendidikan yang dipadukan dengan Kultur pada sistem pendidikan dikabupaten Sumenep
b.      Bagi Peserta didik
Dapat memberikan inovasi baru terkait penerapan sistem pendidikan sehingga kecerdasan pada peserta didik diperoleh secara lengkap, dan akhirnya menjadi peserta didik harapan bangsa yang memiliki pemikiran global namun dapat bersifat dan bersikap sesuai aturan lokal.
c.       Bagi Dinas Pendidikan Kabupaten Sumenep
Memberikan sumbangan ide konsep yang kreatif dan inovatif dalam upaya peningkatan pendidikan dan juga pengaktualisasian budaya dikalangan Pendidikan kabupaten Sumenep.


KONDISI BUDAYA DI KABUPATEN SUMENEP
Kabupaten sumenep terkenal dengan berbagai aspek kultur yang unik dan menarik. Mulai dari adat istiadatnya, misalnya Sape Sonok, Petik Laut, Rokat Tasek, Nyadar. Cara berpakaiannya; Pakaian Tebbek Bersampir, Bersarung dengan Batik. Sastra Sumenep; Ludruk Sumenep, Tandek Sumenep, Jajanan Lokal, Misalnya; Soto Sumenep, Apen Selong, Tegette. Gaya hidup atau sistem etika masyarakat sumenep yaitu kalau orang menunduk, orang sumenep akan lebih menunduk. Jika ada orang congkak maka orang sumenep bisa bersikap lebih dari orang tersebut, “Apello Koning”, “Asapok Ombek”, dll. Hingga pada segi tata bahasa dengan bahasa maduranya yang dinilai bernada paling halus dibandingkan dengan 3 kabuten lainnya di pulau Madura (http://www.tabloid_info.sumenep.go.id). Namun seiring dengan perkembangan zaman berbagai aspek kultur tersebut mengalami degradasi yang sangat memprihatinkan. Penerapan kultur tidak lagi dilakukan diberbagai lapisan masyarakat temasuk juga pada kaum-kaum intelektual, pelajar hingga peserta didik.
Jika waktu lalu ketika hajatan ataupun ada acara formal seluruh aspek kultur sumenep tersebut diatas selalu menghiasi dalam acara-acara tersebut, namun untuk beberapa tahun mulai dari era millenium hingga era global ini sulit ditemui hal seperti tersebut. Sungguh suatu degradasi kultur yang luar biasa sedang dialami seluruh lapisan masyarakat tidak terkecuali kaum intelektualnya yang sebenarnya dipandang lebih paham tentang budaya dan pengembangan budaya.

KONDISI PESERTA DIDIK SUMENEP DALAM MEMAHAMI BUDAYA
Selaras dengan masalah yang dialami Sumenep secara umum terkait budaya, seharusnya peserta didik harus memiliki kecerdasan yang lebih dalam memandang budaya, namun kondisi tersebut tidak tercermin dalam diri peserta didik dikabupaten Sumenep. Pemangku Kebijakan di Sumenep dituntut dapat mengembangkan peserta didik sesuai tuntutan zaman global dan kondisi lingkungan lokal. Sebagaimana tuntutan tersebut terangkum dalam berbagai aspek kecerdasan yaitu kecerdasan intelektual, kecerdasan spiritual, kecerdasan emosional serta kecerdasan social (Ary Ginanjar Agustian, 2006). Namun penulis menillai perlu ada kriteria kecerdasan penyempurna untuk peserta didik yaitu terkait kecerdasan cultural.
Kabupaten Sumenep harus menerapkan sistem pendidikan yang memenuhi 5 konsep kecerdasan diatas. Apalagi kabupaten sumenep dipahami sebagai kabupaten yang sangat terkenal dengan kekuatan dan keragaman budayanya. Secara penerapan sistem pendidikan Sumenep selama telah memenuhi beberapa aspek kecerdasan diatas namun tidak pada segi kecerdasan cultural. Kabupaten Sumenep  dalam sektor pendidikan dinilai belum melaksanakan penerapan sistem yang mengarah terhadap perkembangan kecerdasan kultur pada peserta didiknya. Peserta didik cenderung bersifat dan bersikap kebarat-baratan, hal ini dipengaruhi oleh keterbukaan informasi yang dibingkis dengan virus westernesasi dan pada  menggerus kultur lokal pada diri peserta didik.




KONSEP CULTURE-BASED EDUCATION SYSTEM
Ketika kami melihat realitas terkait kabupaten sumenep yang mengalami degradasi kebudayaan yang berimbas terhadap peserta didik dikabupaten Sumenep, sehingga peserta didik memiliki kecendungan yang tidak menggambarkan budayanya, akhirnya hasil analisa dan penelitian kami mengahasilkan suatu konsep yang dimana dapat dilakukan pada kalangan peserta didik dengan menginovasi penerapan sistem pendidikan dikabupaten Sumenep.
Dimana jika dalam berbagai teori tentang peserta didik peserta didik dituntut untuk menguasai berbagai skill yang meliputi intelektual skill, spiritual skill, emosional skill, dan sosial skill. Kondisi peserta didik Sumenep memiliki suatu tuntutan untuk menguasai suatu skill kecerdasan kultur, yang diamana dengan adanya perpaduan beberapa skill tersebut diharapkan dapat membentuk persons peserta didik yang berotak global dan berjiwa lokal Janet (Wolff, 2007).
Maka disini kami mencoba memberikan solusi penerapan sistem yang berbasis kultur. Sehingga kultur yang telah mengalami degradasi dapat direvitalisasi kembali khususnya dikalangan peserta didik kabupaten Sumenep. Solusi yang kami tawarkan yaitu suatu gagasan yang menjadi solusi atas degradasi kultur yang dialami oleh peserta didik, gagasan tersebut berjudul Konsep Culture-Based Education System ; Sistem Pendidikan Berbasis Budya Lokal sebagai solusi Mengatasi Degradasi Budaya pada Peserta Didik Kabupaten Sumenep  yaitu sebuah konsep sistem pendidikan yang berbasis kultur khususnya kultur lokal (Kabupaten Sumenep). Konsep sistem ini dalam perumusannya mengacu berbagai aspek kebudayaan khususnya kebudayaan Sumenep, mulai dari sarana prasanan pendidikan, Etika /Gaya Hidup Peserta didik, Bahasa Keseharian Peserta didik, Cara berpakaian Peserta didik, Hingga Sistem Kurikulum Akademiknya.
Adapun beberapa hal yang harus dirumuskan dalam Konsep Culture-Based Education System dikabupaten Sumenep ini, meliputi:
1.      Perumusan Desain Sarana dan Prasarana Pendidikan
Perlu adanya suatu pengaturan ruangan pembejaran yang memuat tentang kultur Sumenep, misalnya ; Adanya suatu lukisan-lukisan ruangan pembelajaran yang sesuai dengan rumah adat Sumenep, Dekorasi Banguanan bergambarkan Budaya-budaya Sumenep (Tandek, Sape Sonok dan lain-lain).
2.      Perumusan Aturan Etika/ Gaya Hidup Peserta Didik Sumenep
Adanya suatu peraturan etika atau gaya hidup yang melambangkan cara hidup masyarakat sumenep yaitu pekerja keras, lembut, agamis menjunjung tinggi Etika misalnya menyambut peserta didik dengan bersalim, Mengucapkan salam Saat mengawali Komunikasi atau bertemu dan lain-lain.
3.      Perumusan Aturan Berpakaian Khas Sumenep Diakhir Pekan
Adanya pembuatan aturan agar peserta didik berpakain rapi dengan batik yang berciri khaskan masyarakat Sumenep, bahkan jika memungkinkan dapat berpakaian tebek dan bersampir bagi kaum perempuan disetiap akhir pekan (hari Sabtu).
4.      Perumusan Sistem Kurikulum Pengajaran Berbasis Budaya Lokal
Dalam kurikulum pendidikan secara penilaian dengan menambahkan kriteria penilaian terhadap etika, cara berpakaian serta perlu adanya suatu mata pelajaran wajib yang membahas tentang budaya.

KESIMPULAN
Kabupaten Sumenep dipandang sebagai kabupaten yang memiliki kekuatan dan kekayaan budayanya. Namun seiring dengan perkembangan teknologi logi yang membawa virus westernesasi berakibat terhadap degradasi budaya kabupaten Sumenep. Sudah banyak aset-aset budaya yang punah dikabupaten Sumenep, bahkan seakan-akan masyarakat Sumenep mulai kehilangan jati diri budaya lokalnya.
Kondisi kepunahan budaya ini dialami oleh seluruh lapisan masyarakat Sumenep tanpa terkecuali element peserta didik dikabupaten Sumenep. Lebih parah lagi mayoritas peserta didik sudah bergaya kebarat-baratan yang seakan-akan sudah pudar nilai-nila kultur pada peserta didik dikabupaten Sumenep. Ditambah lagi penerapan pendidikan selama ini hanya berfokus pada aspek kecerdasan intelektual, emosional dan spritual dengan meninggalkan satu aspek penting yang berupa kecerdasan cultural.
Dengan kondisi ini perlu merevitalisasi fungsi pendidikan sebagai media awal menanamkan pemahaman budaya lokal terhadap peserta. Namun secara fundamental tidak hanya pada dimensi penerapannya, perlu ada serangkaian konsep sistem pendidikan. Dimakalah diatas telah dijelaskan tentang suatu solusi gagasan sistem pendidikan berbasis budaya lokal “Culture-Based Education System”. Konsep sistem ini dalam perumusannya mengacu pada berbagai aspek kebudayaan khususnya kebudayaan Sumenep, mulai dari perumusan sarana prasanan pendidikan,  Perumusan Aturan Etika /Gaya Hidup Peserta didik, Perumusan Aturan Penggunanan Bahasa Keseharian Peserta didik, Perumusan Aturan Berpakaian Peserta didik diakhir pekan, Hingga pada Perumusan Kurikulum berbasis Budaya Lokal.
Dalam langkah perumusan dan penerapan konsep Culture-Based Education System ini perlu bantu berbagai pihak yang meliputi pertama peserta didik sebagai objek penerapan untuk dapat berpartisipasi baik serta membantu mensukseskan dan  mematuhi peraturan yang dibangun dalam Konsep Culture-Based Education System ini, yang kedua pemerintah kabupaten Sumenep dalam hal ini dinas pendidikan untuk serius mulai dari penyusunan kurikulum, pemerintah berperan penting dalam penyusunan tersebut dapat sehingga menghasilkan sebuah kurikulum berbasis kultur sesuai tujuan dari konsep Curture Education Sistem Tersebut. Dari Segi Fisik, Pemerintah Harus mengambil Langkah Taktis dalam membangun dan mengatur secara inovatif tentang sarana prasanan pendidikan, Etika /Gaya Hidup Peserta didik, Bahasa Keseharian Peserta didik, Cara berpakaian Peserta didik, Hingga Sistem Kurikulum Akademiknya. Dan secara sosialisasi, Pemerintah dituntut untuk selalu melakukan komunikasi aktif dengan peserta didik dalam upaya penerapan konsesp Culture-Based Education System Tersebut. Sehingga peserta didik semakin paham dan tidak salam paham terhadap konsep yang dipandang sebagai inovasi baru tersebut.


DAFTAR PUSTAKA
Dari Buku
Ary Ginanjar Agustian, 2006, ESQ, Arga : Yogyakarta
Janet Wolff, 2007, The Social Production Of Art, CV. Rajawali
Prof. Dr. C.A. Van Peursen,1985, Strategi Kebudayaan, PT. Kanisius

Dari Web
http://www.tabloid_info.sumenep.go.id [05 Maret 2016]
http://www.stkippgrismp.ac.id [05 Maret 2016]
http://www.iptek7.blogspot.com/2013/06/tips-meningkatkan-kecedasan-otak.html [05 Maret 2016]
http://id.wikipedia.org/wiki/Pendidikan_di_Indonesia [05 Maret 2016]
http://www.pendidikankarakter.com/wajah-sistem-pendidikan-di-indonesia/   [05 Maret 2016]

























1 komentar:

  1. Casino queen of fun bonus codes【VIP】play free casino slot
    Casino queen of fun bonus 인카지노 codes【VIP】play free casino slot machine games online with real money. ✓. 우리카지노 마틴 Casino queen of fun bonus クイーンカジノ codes【VIP】play free casino slot machine games online with real money.

    BalasHapus

luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.comnya.com tipscantiknya.com