Konsep Culture-Based Education System;
Sistem Pendidikan Berbasis Budaya
Lokal
sebagai solusi
Mengatasi Degradasi Budaya pada Peserta Didik Kabupaten Sumenep
Oleh
:
Urip Prayitno
Ketua
Bidang Pembinaan Anggota
HMI Cabang Sumenep
ABSTRAK
Kabupaten Sumenep sebagai kota budaya, seiring perkembangan teknologi informasi
yang membawa virus westernesasi mengalami degradasi pada sektor kebuyaannya.
Sudah banyak aset-aset budaya yang mulai punah, bahkan seakan-akan masyarakat
Sumenep mulai kehilangan jati diri budaya lokalnya. Kondisi kepunahan budaya
ini dialami oleh seluruh lapisan masyarakat Sumenep tanpa terkecuali element
peserta didik. Lebih parah lagi mayoritas peserta didik sudah bergaya
kebarat-baratan yang seakan-akan sudah pudar nilai-nila kultur pada peserta
didik dikabupaten Sumenep. Ditambah lagi penerapan pendidikan selama ini hanya
berfokus pada aspek kecerdasan intelektual, emosional dan spritual dengan
meninggalkan satu aspek penting yang berupa kecerdasan cultural.
Dengan kondisi ini perlu merevitalisasi fungsi pendidikan sebagai media
awal menanamkan pemahaman budaya lokal terhadap peserta. Namun secara
fundamental tidak hanya pada dimensi penerapannya, perlu ada serangkaian konsep
sistem pendidikan. Dalam tulisan ini ditawarkan suatu gagasn sistem pendidikan
berbasis budaya lokal yaitu konsep “Culture-Based
Education System”. Konsep sistem ini dalam langkah-langkah perumusannya
mengacu pada berbagai aspek kebudayaan khususnya kebudayaan Sumenep, mulai dari
perumusan sarana prasanan pendidikan,
Perumusan Aturan Etika /Gaya Hidup Peserta didik, Perumusan Aturan
Penggunanan Bahasa Keseharian Peserta didik, Perumusan Aturan Berpakaian
Peserta didik diakhir pekan, Hingga pada Perumusan Kurikulum berbasis Budaya
Lokal.
Dalam langkah perumusan dan penerapan konsep Culture-Based Education System
ini perlu bantu berbagai pihak yang meliputi pertama peserta didik sebagai objek penerapan untuk dapat
berpartisipasi baik serta membantu mensukseskan dan mematuhi peraturan yang dibangun dalam Konsep
Culture-Based Education System ini, yang kedua
pemerintah kabupaten Sumenep dalam hal ini dinas pendidikan untuk serius mulai
dari penyusunan kurikulum, sosialisasi hingga pada kontrol penerapannya.
Kata Kunci :
Budaya, Culture-Based Education System, Peserta Didik, Pendidikan
Konsep Culture-Based Education System;
Sistem Pendidikan Berbasis Budaya
Lokal
sebagai solusi
Mengatasi Degradasi Budaya pada Peserta Didik Kabupaten Sumenep
Oleh
:
Urip Prayitno
Ketua
Bidang Pembinaan Anggota
HMI Cabang Sumenep
ABSTRAK
Sumenep as a city of culture, as the development of
information technology brings westernesasi virus degrades in kebuyaannya
sector. There have been many cultural assets that became extinct, even as if
society Sumenep began to lose its local cultural identity. This cultural
extinction conditions experienced by all people without exception Sumenep
element learners. Worse yet the majority of learners already Westernized style
that seemed to have faded indigo cultural values on the learner dikabupaten
Sumenep. Plus the implementation of education has been only focusing on the
intellectual, emotional and spiritual to leave one important aspect in the form
of cultural intelligence.
With this condition need to revitalize the function of
education as early media cultivate an understanding of the local culture of the
participants. But fundamentally not only on the dimensions of the application,
there needs to be a series of educational system concepts. In this paper
offered a gagasn local culture-based education system, namely the concept of
"Culture-Based Education
System". The concept of this system in a step-by-step formulation refers
to the various aspects of culture, especially the culture Sumenep, ranging from
formulation means prasanan education, formulation of rules Ethics / Lifestyle
Learners, formulation of rules of use of the English Daily Learners,
formulation of rules Dressed Learners end of the week, Up the formulation of
curriculum-based Local Culture.
In step formulation and application of the concept of Culture-Based
Education System, the need to help the various parties that includes the first
learners as the object of the application to be able to participate as well as
help to succeed and abide by the rules that are built in the Concept Culture-Based
Education System, which both governments Sumenep in this department education
to seriously start preparing the curriculum, socialization to the control
application.
Keywords: Culture, Culture-Based Education System, Students, Education
PENDAHULUAN
Kultur merupakan suatu kebiasan masyarakat dimasa
lalu yang disepakati sebagai sistem kehidupan dalam suatu daerah, atau dengan
kata lain kultur merupakan identitas suatu daerah yang lahir pada sejarah (Van Peursen, 1985). Diketahui di setiap
daerah memiliki kultur masing-masing yang bermacam-macam dan berbeda sesuai
denan kondisi dan sejarah tiap daerah itu tersendiri. Kultur mencakup berbagai
aspek kehidupan yang meliputi ; Gaya hidup, cara berpakaian, jajanan daerah,
bahasa serta adat istiadat suatu daerah.
Sumenep merupakan suatu kabupaten yang terletak
dibagian paling timur pulau Madura. Kabupaten sumenep terkenal dengan berbagai
aspek kultur yang unik dan menarik. Mulai dari adat istiadatnya, misalnya Sape
Sonok, Petik Laut, Rokat Tasek, Nyadar. Cara berpakaiannya; Pakaian Tebbek
Bersampir, Bersarung dengan Batik. Sastra Sumenep; Ludruk Sumenep, Tandek
Sumenep, Jajanan Lokal, Misalnya; Soto Sumenep, Apen Selong, Tegette. Gaya
hidup atau sistem etika masyarakat sumenep yaitu “kalau
orang menunduk, orang sumenep akan lebih menunduk. Jika ada orang congkak maka
orang sumenep bisa bersikap lebih dari orang tersebut “, “Apello Koning”,
“Asapok Ombek”, dll. Hingga pada segi tata bahasa dengan bahasa Maduranya
yang dinilai bernada paling halus dibandingkan dengan 3 kabuten lainnya di
pulau Madura (http://www.sumenep.go.id). Namun seiring dengan perkembangan zaman berbagai aspek
kultur tersebut mengalami degradasi yang sangat memprihatinkan. Penerapan kultur
tidak lagi dilakukan diberbagai lapisan masyarakat temasuk juga pada kaum-kaum
pelajar/ peserta didik dikabupaten Sumenep.
Peserta didik pada khususnya di Sumenep dalam dunia
global saat ini dituntut memiliki berbagai aspek kecerdasan agar mampu bersaing
yang meliputi kecerdasan intelektual, kecerdasan
spiritual, kecerdasan emosional serta kecerdasan social. Namun aspek kecerdasaan tersebut menjadi tidak sempurna jika
tidak dilengkapi dengan aspek kecerdasan
cultural.
Dengan melihat tuntutan-tuntutan pemenuhan beberapa aspek
kecerdasan diatas maka pendidikan di Sumenep dirasa sangat perlu untuk
menerapkan suatu sistem pendidikan yang dapat memenuhi 5 konsep
kecerdasan diatas. Apalagi sebagai kabupaten sumenep dikenal sebagai kabupaten yang
sangat kekuatan dan keragaman
budayanya yang sebenarnya akhir-akhir
ini menalami pemunahan. Secara penerapan sistem
pendidikan di
Sumenep telah memenuhi beberapa aspek kecerdasan diatas namun tidak pada segi
kecerdasan cultural. Pendidikan di
Sumenep dinilai belum melaksanakan penerapan sistem yang mengarah terhadap
perkembangan kecerdasan kultur pada peserta didiknya. Peserta didik cenderung
bersifat dan bersikap kebarat-baratan, hal ini depengaruhi oleh pengaruh keterbukaan informasi yang dibingkis dengan westernesasi.
Maka dari itu perlu adanya bangunan sistem yang dapat merevitalisasi kembali
kebudayaan lokal
pada sistem pendidikan khususnya di Sumenep.
Maka disini kami mencoba memberikan solusi penerapan
sistem yang berbasis kultur yaitu berupa rumusan penerapan sistem pendidikan
yang berbasis kultur khususnya kultur lokal (Kabupaten Sumenep). Sehingga
kultur yang telah mengalami degradasi dapat direvitalisasi kembali khususnya di
kalangan peserta didik kabupaten Sumenep.
TUJUAN DAN
MANFAAT PENULISAN
Tujuan dari penulisan karya tulis ini yaitu :
1.
Mengetahui dan
memahami kondisi peserta didik dalam aspek pemahaman kultur Kabupaten Sumenep.
2.
Mengatasi masalah
degradasi pemahamanan peserta didik terdadap budaya lokal Sumenep.
3.
Untuk menganalisa
model atau konsep sistem pendidikan yang berbasis kultur di Sumenep sebagai
solusi degradasi pemahamanan peserta didik terdadap budaya lokal Sumenep.
4.
Menerapkan solusi
berupa kosep sistem pendidikan berbasis kultur sebagai solusi degradasi
pemahamanan peserta didik terdadap budaya lokal Sumenep.
Adapun Manfaat yang diberikan dalam penulisan karya tulis
ini yaitu :
1.
Manfaat Teoritis
Sebagai bahan kajian Pihak pemangku kebijakan pendidikan
di kabupaten Sumenep dalam mengelelola sistem pendidikan demi perekembangan peserta
didik yang berlandaskan kultur lokal Sumenep.
2.
Manfaat Praktis
a.
Bagi penulis
Menumbuhkan Wawasan Pendidikan yang dipadukan dengan
Kultur pada sistem pendidikan dikabupaten Sumenep
b.
Bagi Peserta didik
Dapat memberikan inovasi baru terkait penerapan sistem
pendidikan sehingga kecerdasan pada peserta didik diperoleh secara lengkap, dan
akhirnya menjadi peserta didik harapan bangsa yang memiliki pemikiran global
namun dapat bersifat dan bersikap sesuai aturan lokal.
c.
Bagi Dinas
Pendidikan Kabupaten Sumenep
Memberikan sumbangan ide konsep yang kreatif dan inovatif
dalam upaya peningkatan pendidikan dan juga pengaktualisasian budaya dikalangan
Pendidikan kabupaten Sumenep.
KONDISI BUDAYA DI KABUPATEN SUMENEP
Kabupaten sumenep terkenal dengan berbagai aspek
kultur yang unik dan menarik. Mulai dari adat istiadatnya, misalnya Sape Sonok,
Petik Laut, Rokat Tasek, Nyadar. Cara berpakaiannya; Pakaian Tebbek Bersampir,
Bersarung dengan Batik. Sastra Sumenep; Ludruk Sumenep, Tandek Sumenep, Jajanan
Lokal, Misalnya; Soto Sumenep, Apen Selong, Tegette. Gaya hidup atau sistem
etika masyarakat sumenep yaitu “kalau
orang menunduk, orang sumenep akan lebih menunduk. Jika ada orang congkak maka
orang sumenep bisa bersikap lebih dari orang tersebut “, “Apello Koning”,
“Asapok Ombek”, dll. Hingga pada segi tata bahasa dengan bahasa maduranya
yang dinilai bernada paling halus dibandingkan dengan 3 kabuten lainnya di
pulau Madura (http://www.tabloid_info.sumenep.go.id). Namun seiring dengan perkembangan zaman berbagai aspek
kultur tersebut mengalami degradasi yang sangat memprihatinkan. Penerapan
kultur tidak lagi dilakukan diberbagai lapisan masyarakat temasuk juga pada
kaum-kaum intelektual, pelajar hingga peserta didik.
Jika waktu lalu ketika hajatan ataupun ada acara formal
seluruh aspek kultur sumenep tersebut diatas selalu menghiasi dalam acara-acara
tersebut, namun untuk beberapa tahun mulai dari era millenium hingga era global
ini sulit ditemui hal seperti tersebut. Sungguh suatu degradasi kultur yang
luar biasa sedang dialami seluruh lapisan masyarakat tidak terkecuali kaum
intelektualnya yang sebenarnya dipandang lebih paham tentang budaya dan
pengembangan budaya.
KONDISI PESERTA DIDIK SUMENEP DALAM MEMAHAMI BUDAYA
Selaras dengan masalah yang dialami Sumenep secara umum
terkait budaya, seharusnya peserta didik harus memiliki kecerdasan yang lebih
dalam memandang budaya, namun kondisi tersebut tidak tercermin dalam diri peserta
didik dikabupaten Sumenep. Pemangku Kebijakan di
Sumenep dituntut dapat mengembangkan peserta didik sesuai tuntutan zaman global
dan kondisi lingkungan lokal. Sebagaimana tuntutan tersebut terangkum dalam
berbagai aspek kecerdasan yaitu kecerdasan intelektual, kecerdasan spiritual,
kecerdasan emosional serta kecerdasan social (Ary Ginanjar Agustian, 2006).
Namun penulis menillai perlu ada kriteria kecerdasan penyempurna untuk peserta
didik yaitu terkait kecerdasan cultural.
Kabupaten Sumenep harus
menerapkan sistem pendidikan yang memenuhi 5 konsep kecerdasan diatas. Apalagi
kabupaten sumenep dipahami
sebagai kabupaten yang sangat terkenal dengan kekuatan dan keragaman budayanya. Secara
penerapan sistem pendidikan Sumenep
selama telah memenuhi beberapa aspek
kecerdasan diatas namun tidak pada segi kecerdasan cultural. Kabupaten Sumenep dalam sektor
pendidikan dinilai belum melaksanakan penerapan
sistem yang mengarah terhadap perkembangan kecerdasan kultur pada peserta didiknya.
Peserta didik cenderung bersifat dan bersikap kebarat-baratan, hal ini dipengaruhi oleh keterbukaan informasi yang dibingkis dengan virus
westernesasi dan pada menggerus kultur lokal pada diri peserta didik.
KONSEP CULTURE-BASED EDUCATION SYSTEM
Ketika kami melihat realitas terkait kabupaten sumenep
yang mengalami degradasi kebudayaan yang berimbas terhadap peserta didik dikabupaten
Sumenep, sehingga peserta didik memiliki kecendungan yang tidak menggambarkan
budayanya, akhirnya hasil analisa dan penelitian kami mengahasilkan suatu
konsep yang dimana dapat dilakukan pada kalangan peserta didik dengan
menginovasi penerapan sistem pendidikan dikabupaten Sumenep.
Dimana jika dalam berbagai teori tentang peserta didik peserta
didik dituntut untuk menguasai berbagai skill yang meliputi intelektual skill,
spiritual skill, emosional skill, dan sosial skill. Kondisi peserta didik
Sumenep memiliki suatu tuntutan untuk menguasai suatu skill kecerdasan kultur,
yang diamana dengan adanya perpaduan beberapa skill tersebut diharapkan dapat
membentuk persons peserta didik yang berotak global dan berjiwa lokal Janet (Wolff, 2007).
Maka disini kami mencoba memberikan solusi penerapan
sistem yang berbasis kultur. Sehingga kultur yang telah mengalami degradasi
dapat direvitalisasi kembali khususnya dikalangan peserta didik kabupaten
Sumenep. Solusi yang kami tawarkan yaitu suatu gagasan yang menjadi solusi atas
degradasi kultur yang dialami oleh peserta didik, gagasan tersebut berjudul “Konsep
Culture-Based
Education System ; Sistem Pendidikan Berbasis Budya Lokal sebagai solusi
Mengatasi Degradasi Budaya pada Peserta Didik Kabupaten Sumenep“ yaitu sebuah konsep sistem pendidikan yang berbasis
kultur khususnya kultur lokal (Kabupaten Sumenep). Konsep sistem ini dalam perumusannya
mengacu berbagai aspek kebudayaan khususnya kebudayaan Sumenep, mulai dari sarana
prasanan pendidikan, Etika /Gaya Hidup Peserta didik, Bahasa Keseharian Peserta
didik, Cara berpakaian Peserta didik, Hingga Sistem Kurikulum Akademiknya.
Adapun beberapa hal yang harus dirumuskan dalam Konsep Culture-Based
Education System dikabupaten Sumenep ini, meliputi:
1.
Perumusan Desain Sarana
dan Prasarana Pendidikan
Perlu adanya suatu pengaturan ruangan pembejaran yang memuat
tentang kultur Sumenep, misalnya ; Adanya suatu lukisan-lukisan ruangan
pembelajaran yang sesuai dengan rumah adat Sumenep, Dekorasi Banguanan
bergambarkan Budaya-budaya Sumenep (Tandek, Sape Sonok dan lain-lain).
2.
Perumusan Aturan
Etika/ Gaya Hidup Peserta Didik Sumenep
Adanya suatu peraturan etika atau gaya hidup yang
melambangkan cara hidup masyarakat sumenep yaitu pekerja keras, lembut, agamis
menjunjung tinggi Etika misalnya menyambut peserta didik dengan bersalim,
Mengucapkan salam Saat mengawali Komunikasi atau bertemu dan lain-lain.
3.
Perumusan Aturan Berpakaian
Khas Sumenep Diakhir Pekan
Adanya pembuatan aturan agar peserta didik berpakain rapi
dengan batik yang berciri khaskan masyarakat Sumenep, bahkan jika memungkinkan
dapat berpakaian tebek dan bersampir bagi kaum perempuan disetiap akhir pekan
(hari Sabtu).
4.
Perumusan Sistem
Kurikulum Pengajaran Berbasis Budaya Lokal
Dalam kurikulum pendidikan secara penilaian dengan
menambahkan kriteria penilaian terhadap etika, cara berpakaian serta perlu
adanya suatu mata pelajaran wajib yang membahas tentang budaya.
KESIMPULAN
Kabupaten Sumenep dipandang sebagai kabupaten yang
memiliki kekuatan dan kekayaan budayanya. Namun seiring dengan perkembangan
teknologi logi yang membawa virus westernesasi berakibat terhadap degradasi
budaya kabupaten Sumenep. Sudah banyak aset-aset budaya yang punah dikabupaten
Sumenep, bahkan seakan-akan masyarakat Sumenep mulai kehilangan jati diri
budaya lokalnya.
Kondisi kepunahan budaya ini dialami oleh seluruh lapisan
masyarakat Sumenep tanpa terkecuali element peserta didik dikabupaten Sumenep.
Lebih parah lagi mayoritas peserta didik sudah bergaya kebarat-baratan yang
seakan-akan sudah pudar nilai-nila kultur pada peserta didik dikabupaten
Sumenep. Ditambah lagi penerapan pendidikan selama ini hanya berfokus pada
aspek kecerdasan intelektual, emosional dan spritual dengan meninggalkan satu
aspek penting yang berupa kecerdasan cultural.
Dengan kondisi ini perlu merevitalisasi fungsi pendidikan
sebagai media awal menanamkan pemahaman budaya lokal terhadap peserta. Namun
secara fundamental tidak hanya pada dimensi penerapannya, perlu ada serangkaian
konsep sistem pendidikan. Dimakalah diatas telah dijelaskan tentang suatu
solusi gagasan sistem pendidikan berbasis budaya lokal “Culture-Based Education System”. Konsep sistem ini dalam perumusannya
mengacu pada berbagai aspek kebudayaan khususnya kebudayaan Sumenep, mulai dari
perumusan sarana prasanan pendidikan, Perumusan Aturan Etika /Gaya Hidup Peserta
didik, Perumusan Aturan Penggunanan Bahasa Keseharian Peserta didik, Perumusan
Aturan Berpakaian Peserta didik diakhir pekan, Hingga pada Perumusan Kurikulum berbasis
Budaya Lokal.
Dalam langkah perumusan dan penerapan konsep Culture-Based
Education System ini perlu bantu berbagai pihak yang meliputi pertama peserta didik sebagai objek
penerapan untuk dapat berpartisipasi baik serta membantu mensukseskan dan mematuhi peraturan yang dibangun dalam Konsep
Culture-Based Education System ini, yang kedua
pemerintah kabupaten Sumenep dalam hal ini dinas pendidikan untuk serius mulai
dari penyusunan kurikulum, pemerintah berperan penting dalam penyusunan
tersebut dapat sehingga menghasilkan sebuah kurikulum berbasis kultur sesuai
tujuan dari konsep Curture Education Sistem Tersebut. Dari Segi Fisik,
Pemerintah Harus mengambil Langkah Taktis dalam membangun dan mengatur secara
inovatif tentang sarana prasanan pendidikan, Etika /Gaya Hidup Peserta didik,
Bahasa Keseharian Peserta didik, Cara berpakaian Peserta didik, Hingga Sistem
Kurikulum Akademiknya. Dan secara sosialisasi, Pemerintah dituntut untuk selalu
melakukan komunikasi aktif dengan peserta didik dalam upaya penerapan konsesp Culture-Based
Education System Tersebut. Sehingga peserta didik semakin paham dan tidak salam
paham terhadap konsep yang dipandang sebagai inovasi baru tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Dari Buku
Ary
Ginanjar Agustian, 2006, ESQ, Arga : Yogyakarta
Janet
Wolff, 2007, The Social Production Of Art, CV. Rajawali
Prof.
Dr. C.A. Van Peursen,1985, Strategi Kebudayaan, PT. Kanisius
Dari Web
http://www.tabloid_info.sumenep.go.id
[05 Maret 2016]
http://www.stkippgrismp.ac.id
[05 Maret 2016]
http://www.iptek7.blogspot.com/2013/06/tips-meningkatkan-kecedasan-otak.html
[05 Maret
2016]
http://id.wikipedia.org/wiki/Pendidikan_di_Indonesia
[05 Maret 2016]
http://www.pendidikankarakter.com/wajah-sistem-pendidikan-di-indonesia/ [05
Maret 2016]







Casino queen of fun bonus codes【VIP】play free casino slot
BalasHapusCasino queen of fun bonus 인카지노 codes【VIP】play free casino slot machine games online with real money. ✓. 우리카지노 마틴 Casino queen of fun bonus クイーンカジノ codes【VIP】play free casino slot machine games online with real money.