Kajian Orientasi
Potensi dan Posisi Pemuda dalam Pembangunan Daerah
(Studi Kebijakan Daerah
DISBUDPARPORA)
Oleh
:
Urip Prayitno
Ketua
Bidang Perguruan Tinggi, Kemahasiswaan dan Pemuda HMI Cabang Sumenep
uriptobat@gmail.com
– 085230790571 – 59530F1A
TEOREMA
PEMUDA
Topik
tentang kepemudaan merupakan topik yang tidak asing lagi dalam perkembangan
dinamika kehidupan serta kajian ilmu pengetahuan. Topik ini merupakan topik
yang cukup lawas dan sering kali diperbincangkan, namun dalam perkembangan
kajiannya topik tentang pemuda ini selalu menemukan kajian dari berbagai sudut
pandang sehingga acapkali topik selalu hangat dibicarakan baik pada forum-forum
(formal dan nonformal) maupun pada tulisan-tuisan (buku, artikel, opini dan
lainnya). Bak topik cinta yang tak pernah
reda walau telah banyak pujangga tak bernyawa. Pada tulisan kali ini topik
pemuda mencoba ditanjau dari sisi orientasi potensi (SDM) pemuda dan orientasi
posisi (Reposisi) pemuda dalam pembangunan daerah. Sebelum pada kajian lebih
mendalam pada sudut pandang tersebut, perlu sebelumnya dipahami tentang makna
atau definisi pemuda secara komprehensif dan objektif sebagai alat bedah tema
ini.
Ditinjau dari sudut
pandang usia, World
Health Organization (WHO) sebagai Organisasi Kesehatan Dunia menyatakan bahwa
pemuda/ “Young People” merupakan individu yang berada pada usia 10-19 tahun. International
Youth Year yang diselenggarakan tahun 1985 menyimpulkan bahwa pemuda adalah
penduduk yang berusia 15-24 tahun. Sedangkan undang-undang Republik Indonesia
no. 40 tahun 2009 menuliskan bahwa batasan usia warga negara Indonesia yang
dapat dikatakan pemuda yaitu berkisar 16-30 tahun. Bahkan pada negara-negara
berkembang lainnya batasan usia pemuda dapat mencapai 35 tahun. Tinjauan dalam
perspektif usia ini bukan terletak pada perbedaan penetapan batasan usia
pemuda, namun lebih pada suatu penegasan bahwa yang dapat dikatakan sebagai pemuda adalah
individu/ masyarakat pada usia produktif.
Ditinjau dalam prespektif
karakter, islam
menegaskan bahwa pemuda identik dengan karakter pemberani, optimis, komitmen,
konsisten dan revolusioner. Sebagaimana difirmankan oleh Allah SWT dalam surat
Al-Anbiya (21: 59-60) yang menceritakan seorang pemuda yang bernama Ibrahim
dengan penuh keberanian untuk
menghancurkan berhala demi kebenaran.
Berikutnya pada surat Al-Kahfi (18: 13-14) didalamnya diceritakan
tentang Muhammad sebagai pemuda yang penuh dengan keyakinan dan bersunggun-sungguh (komitmen) dalam mengupayakan pencapaian tujuan pada perjuangannya.
Serta ayat 60 dari surat yang sama memuat peristiwa dimana seorang pemuda
bernama Musa yang tidak pernah menyerah (konsisten)
pada satu tujuan yang ditetapkan tanpa peduli halangan melintang.
Dengan
melihat tinjauan usia dan tinjauan karakter, dapat disimpulkan bahwa pemuda
merupkan individu (berifat personal
ataupun komunal) pada usia produktif yang memiliki sikap progresif, penuh
dengan keberanian, optimistis, komitmen, konsisten serta revolusioner. Walaupun
sikap pemuda yang penuh dengan keberanian terkadang mengarah pada emosi yang
tidak stabil namun hal ini menjadi kelebihan tersendiri bagi pemuda sehingga
dalam gerakannya selalu berapi-api.
PEMUDA DALAM LINTASAN SEJARAH
BANGSA INDONESIA
Dalam
setiap lintasan sejarah peradaban pasti diwarnai oleh gerakan pemuda baik itu
dilintasan sejarah peradaban dunia, sejarah peradaban islam dan tak terkecuali
serjarah peradaban bangsa Indonesia. Walaupun dengan pola gerakan yang
berbeda-beda namun dalam setiap peradaban pemuda tidak cukup hanya mewarnai akan
tetapi dapat dikata pemuda merupakan aktor utama dalam setiap lintasan sejarah
peradaban.
Pemuda dalam lintasan sejarah
peradaban dunia.
Tercatat pada sejarah peradaban Yunani yang dikenal sebagai era peradaban ilmu
pengetahuan. Kesuksesan masa ini didorong oleh kecemelangan ide pemikiran dan
gagasan para pemuda melalui gerakan intelektualitas. Sebut saja diantara mereka
Socrates, Plato, Aristoteles, Phytagoras dan para pemikir serta ideolog
lainnya. Pada masa revolusi, disetiap revolusi besar dunia semangat juang
pemuda manjadi api yang selalu mengobarkan semangat revolusioner. Terlihat
mulai dari revolusi Perancis yang digagas oleh gerakan revolusi pemuda. Lalu
tampak pula pada revolusi-revolusi berikut pasca perang dunia ke-II, dari
revolusi Mesir, revolusi Amerika (1950), revolusi Spanyol (1968), revolusi
Hungaria (1956), revolusi Amerika Latin (1928), revolusi Aljazair (1954),
revolusi Sudan (1956), revolusi Jepang (1960), revolusi Korea Selatan (1960),
revolusi Turki (1960), revolusi China (1989) serta revolusi Indonesia. Dengan
adanya hal tersebut barangkali sudah tidak menjadi asing bahwa dalam perjalanan
peradaban pemuda menjadi motor penggerak revolusi peradaban.
Pemuda dalam lintasan
sejarah peradaban islam.
Dalam dinamika perjuangan islam dikenal beberapa tokoh islam yang didominasi
oleh kaula muda islam. Al-quran telah memprasastikan suatu kisah tokoh seorang
pemuda bernama Ibrahim dengan kegigihannya bertindak revoluisioner untuk
memperbaiki tatanan sistem masyarakat yang rusak. Selanjutnya tentang goresan
cerita Ashabul Khafi (para pemuda penghuni goa) menjadi bukti nyata pemuda
islam senantiasa memilik cara demi memperjuangkan nasib suatu bangsa yang
tertindas oleh kesewang-wenangan penguasa. Dalam sejarah peradaban islam, ada
satu perjuangan yang sangat tampak luarbiasa yakni pada masa perjuangan
Rosulullah (Muhammad SAW). Sejarah mencatat rosulullah mampu melakukan
perubahan peradaban hampir separuh dunia. Dibalik kesuksesan perjuangan
rosullah, pemuda pula yang menjadi kunci pencapaiannya. Ada banyak nama-nama
pemuda sebagai pasukan terbaik dan selalu setia mendampingin perjungan
rosulullah (Ali Bin Abu Thalib, Zubair
Bin Awwam, Jakfar Bin Abu Thalib, Arqam Bin Abi Arqam, Shuhaib Ar Rumy, Zaid
Bin Haritsah, Saad Bin Ali Waqqash, Usman Bin Affan, Usman Bin Said). Sejak
berumur belasan tahun berjuang bersam rosulullah hingga para pemuda tersebut
sedemikian lihai dan matang dalam mengelola peradaban yang besar pada masa itu.
Pemuda dalam lintasan
sejarah bangsa Indonesia.
The founding father bangsa Indonesia (Ir. Soekarno) pernah mengumandang satu
kalimat yang seakan dipandanng sebagai sebuah kalimat apologi atau irrational
logic tentang pemuda. Bahwa dalam satu pidatonya (Ir. Soekarno) menyatakan
hanya butuh 10 orang pemuda untuk mengguncang dunia. Pernyataan yang mengandung
spirit kepemudaan ini tentu bukan tanpa alasan dan pandangan jauh kedepan untuk
bangsa Indonesia. Hal tersebut terbukti dalam sejarah peradaban Indonesia dari
masa perjuangan hingga sekarang pemuda menjadi promotor. Tampak jelas peran
pemuda dalam lintasan sejarah bangsa Indonesia, sejak dari peristiwa
Kebangkitan Nasional (1908), peristiwa Sumpah Pemuda (1928), peristiwa
Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia (1945), peristiwa lahirnya Orde Baru
(1966) hingga satu momentum besar lahirnya Orde Reformasi (1998).
Kebangkitan Nasional 1908. Berdasarkan Sejarah, tonggak awal Kebangkitan
Nasional disebutkan dengan diawali berdirinya Organisasi Budi Oetomo tahun
1908. Organisasi yang dimotori oleh para mahasiwa Stovia, sekolah kedokteran
yang didirikan Belanda untuk anak priyayi Indonesia. Namun hal ini masih
menjadi perdebatan karena Budi Oetomo tidak bersifat Nasional. Organisasi ini
hanya ada di Jawa dan memang khusus diperuntukkan bagi orang Jawa. Kontroversi
Sejarah tersebuttidak bisa menafikan bahwa sejak saat itu perjuangan para
pemuda telah memasuki babak baru. Perjuangan melalui sarana organisasi telah
dimulai. Walaupun dimulai oleh organisasi yang bersifat kedaerahan, kesadaran
untuk menyatu dalam suatu bangsa sudah ada.
Sumpah Pemuda 1928. Setelah Perang Dunia I, filsafat Nasionalisme abad
pertengahan, mulai merambat ke negara-negara jajahan melalui para mahasiswa
negara jajahan yang belajar ke negara penjajah. Soepomo, Mohammad Hatta, dan
Sutan Syahrir sudah aktif berdiskusi tentang masa depan negaranya ketika mereka
masih belajar di Benua Eropa. Di dalam negeri sendiri, Soekarno sejak remaja,
masa mahasiswanya bahkan setelah lulus kuliahnya, terus aktif menyuarakan
tuntutan kemerdekaan bagi negerinya lewat berbagai organisasi yang tumbuh di
abad 20. Pada masa ini juga banyak diciptakan lagu-lagu kebangsaan yang sarat
dengan muatan semangat Nasionalisme seperti Indonesia Raya, Dari Sabang Sampai
Merauke, Padamu Negeri, Maju Tak Gentar dan lain sebagainya. Dua puluh tahun
setelah Kebangkitan Nasional, kesadaran untuk bersatu ke dalam satu negara,
bangsa dan bahasa Indonesia, telah disadari oleh para pemuda yang sudah mulai
terkotak-kotak dengan organisasi kedaerahan seperti Jong Java, Jong Celebes,
Jong Sumatera dan lain-lain, kemudian diwujudkan secara nyata dengan
menggelorakan Sumpah Pemuda di tahun 1928.
Proklamasi Kemerdekaan 1945. Peristiwa ini diawali dengan kenekatan para pemuda
yang menculik Soekarno-Hatta ke daerah Rengasdengklok. Tindakan ini diambil
oleh para pemuda dengan maksud untuk mengamankan Soekarno-Hatta dari pengaru
Jepang, agar mereka mau secepatnya untuk mendeklarasikan kemerdekan Republik
Indonesia. Hal ini bertujuan agar kekalahan Jepang tidak dimanfaatkan oleh
Belanda untuk masuk kembali dan menjajah Indonesia lagi. Penculikan ini membawa
hasil dibacakannya Proklamasi Kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945. Momen
bersejarah ini menjadi tonggak penting dalam kehidupan dan kelangsungan bangsa
Indonesia selanjutnya.
Lahirnya Orde Baru 1966. Tepat 20 tahun setelah kemerdekaan, terjadi
huru-hara Pemberontakan G30S/PKI dan eksesnya. Tanpa peran besar mahasiswa dan
organisasi pemuda serta organisasi sosial kemasyarakatan di tahun 1966,
Soeharto dan para tentara tidak mungkin bisa ‘merebut’ kekuasaan dari Orde Lama
Soekarno. Tetapi syang, penguasa Orde Baru mendepak para pemuda dan mahsiswa
yang telah menjadi motor utama pendorong mobil RI yang mogok, sekaligus
penggantian sopir dari Soekarno ke Soeharto. Bahkan sejak akhir tahun 1970-an
para mahasiswa dibatasi ruang geraknya dalam berpolitik dan didukung ke dalam
ruang-ruang kuliah di kampus lewat NKK/BKK.
Lahirnya Orde Reformasi 1998. Pemerintahan Orde Baru yang walaupun secara kasat
mata telah menampakkan adanya kemajuan dalam kehidupan masyarakat, sesungguhnya
dibangun dengan fondasi ekonomi yang rapuh, tergerogoti oleh jejaring KKN.
Krisis moneter mengawali kejatuhan pemerintah Orde Baru. Selain itu, gelombang
aksi mahasiswa yang terus menggelora menjadi bagai deburan ombak yang tak
pernah berhenti. Akhirnya Orde Baru pun menyerah dan perpindahan kekuasaan itu
terjadi. Demikianlah, para pemuda menjadi tulang punggung sebuah peradaban.
Apalah jadinya sebuah bangsa tanpa pemuda, tanpa pemuda berkontribusi,
tanpa pemuda yang sadar, tanpa pemuda yang dengan semangat cinta kepada tanah
air dan bangsanya mengalahkan kecintaan terhadap dirinya sendiri.
PEMUDA
SEBAGAI ASET PENERUS BANGSA
Dari lintasan sejarah bangs Indonesia, mulai dari
peristiwa Kebangkitan Nasional 1908, Sumpah Pemuda 1928, Proklamasi Kemerdekaan
RI 1945, Lahirnya Orde Baru 1966, Lahirnya Orde Reformasi 1989 hingga
perjuangan pemuda sekarang membuktikan bahwa cacatan perjuangan pemuda
Indonesia menggoreskan prasasti bertinta emas. Sehingga lahirlah suatu
penegasan bahwa pemuda merupakan aset berharga bangsa Indonesia dari masa ke
masa hingga saat ini pada era pasca reformasi yakni era global.
Pemuda sebagai aset bangsa Indonesia menjadi satu
ungkapan yang linear dengan pernyataan pemuda sebagai penerus bangsa Indonesia.
Hal ini dapat dilihat dari dimensi kepemimpinan bangsa Indonesia pada setia
masa. Muncul dari sebuah kata mutiara bahwasanya setiap orang (pemimpin) ada masanya, dan setiap masa
pasti ada orangnya (pemimpinnya).
Dapat ditarik suatu intisari dari bahasa mutiara tersebut yaitu masa hari ini
memiliki pemimpin hasil produk pemuda masa kemarin, dan masa yang akan datang
akan dipimpin oleh pemuda yang tentunya produk hari ini. Maka dari itu
keberadaan pemuda hari ini adalah penentu masa depan bangsa Indonesia dimasa
yang akan datang.
Sesuai dengan Rencana Pembangunan Jangka Panjang
Nasional (RPJPN) Republik Indonesia mencantumkan pada tahun 2035 Republik
Indonesia dapat mencapai masa keemasan. Rumusan RPJPN tersebut mengalir deras
di seantero bangsa Indonesia dengan didukung oleh munculnya wacana bonus demografi yang pada puncaknya tahun 2035 atau 2040.
Bonus demografi adalah pandangan kondisi keemasan bangsa Indonesia
ORIENTASI POTENSI DAN REPOSISI
PEMUDA
Dalam menggapai generasi emas, secara realitas objektif
yang perlu disikapi dengan serius adalah orientasi generasi muda sebagai subjek
bonus demografi. Cluster pemuda di Indonesia terbagi atas 3 cluster yang
meliputi ; 1) Generasi Pemuda Pengangguran, 2). Generasi Muda Pelajar, dan 3)
Generasi Muda Aktivis (Aktif Organisasi). Dalam pencapaian generasi emas seharusnya
pemerintah mampu merumuskan strategi dan konsepsi perberdayaan pemuda disetiap
cluster. Sebenarnya pemerintah dalam hal pemberdayaan pemuda telah banyak yang
dilakukan, baik itu berupa kebijakan nasional maupun kebijkan daerah (lokal wisdom). Akan tetapi pencapaian
program-program pemerintah dalam perumusan pemberdayaan pemuda tersebut sangat kurang
orientatf. Seharusnya orientasi program kepemudaan seharusnya memuat orientasi
potensi (SDM) pemuda dan orientasi posisi (reposisis) pemuda dalam mendukung
pembangunan khususnya pembangunan daerah. Perumusan orientasi tersebut
merepukan wewengan dan kewajiban Kementerian Pemuda dan Olahraga (MENPORA)
secara nasional dan Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (DISBUDPARORA)
untuk skala daerah.
Ada dua hal yang harus menjadi prioritas pemerintah khususnya
pemerintah daerah sebagai eksekutor dalam merumuskan kebijakan kepemudaan. Dua
hal tersebut meliputi :
1.
Rumusan
Kebijakan yang berorientasi pada pengembangan dan penataan potensi (SDM) pemuda
didaerah yang sesuai dengan rumusan kebijakan pembangunan daerah dan Rencana
Pembangunan Nasional Republik Indonesia.
2.
Rumusan
Kebijakan yang berorientasi pada penataan posisi/ reposisi pemuda dalam hal
mendukung dan berperan aktif menyukseskan pembangunan daerah sesuai Rencana
Pembangunan Nasional Republik Indonesia .









