Blog Cerdas Yang Informatif

Blog Cerdas Yang Informatif

INSAN TANPA SYARAT

INSAN TANPA SYARAT

INSAN TANPA SYARAT

INSAN TANPA SYARAT

INSAN TANPA SYARAT

INSAN TANPA SYARAT

INSAN TANPA SYARAT

INSAN TANPA SYARAT

INSAN TANPA SYARAT

INSAN TANPA SYARAT

Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan

Rabu, 10 Februari 2016

Kajian Orientasi Potensi dan Posisi Pemuda dalam Pembangunan Daerah

Kajian Orientasi Potensi dan Posisi Pemuda dalam Pembangunan Daerah
(Studi Kebijakan Daerah DISBUDPARPORA)
Oleh :
Urip Prayitno
Ketua Bidang Perguruan Tinggi, Kemahasiswaan dan Pemuda HMI Cabang Sumenep
uriptobat@gmail.com – 085230790571 – 59530F1A


TEOREMA PEMUDA
Topik tentang kepemudaan merupakan topik yang tidak asing lagi dalam perkembangan dinamika kehidupan serta kajian ilmu pengetahuan. Topik ini merupakan topik yang cukup lawas dan sering kali diperbincangkan, namun dalam perkembangan kajiannya topik tentang pemuda ini selalu menemukan kajian dari berbagai sudut pandang sehingga acapkali topik selalu hangat dibicarakan baik pada forum-forum (formal dan nonformal) maupun pada tulisan-tuisan (buku, artikel, opini dan lainnya). Bak topik cinta yang tak pernah reda walau telah banyak pujangga tak bernyawa. Pada tulisan kali ini topik pemuda mencoba ditanjau dari sisi orientasi potensi (SDM) pemuda dan orientasi posisi (Reposisi) pemuda dalam pembangunan daerah. Sebelum pada kajian lebih mendalam pada sudut pandang tersebut, perlu sebelumnya dipahami tentang makna atau definisi pemuda secara komprehensif dan objektif sebagai alat bedah tema ini.
Ditinjau dari sudut pandang usia, World Health Organization (WHO) sebagai Organisasi Kesehatan Dunia menyatakan bahwa pemuda/ “Young People” merupakan individu yang berada pada usia 10-19 tahun. International Youth Year yang diselenggarakan tahun 1985 menyimpulkan bahwa pemuda adalah penduduk yang berusia 15-24 tahun. Sedangkan undang-undang Republik Indonesia no. 40 tahun 2009 menuliskan bahwa batasan usia warga negara Indonesia yang dapat dikatakan pemuda yaitu berkisar 16-30 tahun. Bahkan pada negara-negara berkembang lainnya batasan usia pemuda dapat mencapai 35 tahun. Tinjauan dalam perspektif usia ini bukan terletak pada perbedaan penetapan batasan usia pemuda, namun lebih pada suatu penegasan bahwa yang  dapat dikatakan sebagai pemuda adalah individu/ masyarakat pada usia produktif.
Ditinjau dalam prespektif karakter, islam menegaskan bahwa pemuda identik dengan karakter pemberani, optimis, komitmen, konsisten dan revolusioner. Sebagaimana difirmankan oleh Allah SWT dalam surat Al-Anbiya (21: 59-60) yang menceritakan seorang pemuda yang bernama Ibrahim dengan penuh keberanian untuk menghancurkan berhala demi kebenaran.  Berikutnya pada surat Al-Kahfi (18: 13-14) didalamnya diceritakan tentang Muhammad sebagai pemuda yang penuh dengan keyakinan dan bersunggun-sungguh (komitmen) dalam mengupayakan pencapaian tujuan pada perjuangannya. Serta ayat 60 dari surat yang sama memuat peristiwa dimana seorang pemuda bernama Musa yang tidak pernah menyerah (konsisten) pada satu tujuan yang ditetapkan tanpa peduli halangan melintang.
Dengan melihat tinjauan usia dan tinjauan karakter, dapat disimpulkan bahwa pemuda merupkan individu (berifat personal ataupun komunal) pada usia produktif yang memiliki sikap progresif, penuh dengan keberanian, optimistis, komitmen, konsisten serta revolusioner. Walaupun sikap pemuda yang penuh dengan keberanian terkadang mengarah pada emosi yang tidak stabil namun hal ini menjadi kelebihan tersendiri bagi pemuda sehingga dalam gerakannya selalu berapi-api.

PEMUDA DALAM LINTASAN SEJARAH BANGSA INDONESIA
Dalam setiap lintasan sejarah peradaban pasti diwarnai oleh gerakan pemuda baik itu dilintasan sejarah peradaban dunia, sejarah peradaban islam dan tak terkecuali serjarah peradaban bangsa Indonesia. Walaupun dengan pola gerakan yang berbeda-beda namun dalam setiap peradaban pemuda tidak cukup hanya mewarnai akan tetapi dapat dikata pemuda merupakan aktor utama dalam setiap lintasan sejarah peradaban.
Pemuda dalam lintasan sejarah peradaban dunia. Tercatat pada sejarah peradaban Yunani yang dikenal sebagai era peradaban ilmu pengetahuan. Kesuksesan masa ini didorong oleh kecemelangan ide pemikiran dan gagasan para pemuda melalui gerakan intelektualitas. Sebut saja diantara mereka Socrates, Plato, Aristoteles, Phytagoras dan para pemikir serta ideolog lainnya. Pada masa revolusi, disetiap revolusi besar dunia semangat juang pemuda manjadi api yang selalu mengobarkan semangat revolusioner. Terlihat mulai dari revolusi Perancis yang digagas oleh gerakan revolusi pemuda. Lalu tampak pula pada revolusi-revolusi berikut pasca perang dunia ke-II, dari revolusi Mesir, revolusi Amerika (1950), revolusi Spanyol (1968), revolusi Hungaria (1956), revolusi Amerika Latin (1928), revolusi Aljazair (1954), revolusi Sudan (1956), revolusi Jepang (1960), revolusi Korea Selatan (1960), revolusi Turki (1960), revolusi China (1989) serta revolusi Indonesia. Dengan adanya hal tersebut barangkali sudah tidak menjadi asing bahwa dalam perjalanan peradaban pemuda menjadi motor penggerak revolusi peradaban.
Pemuda dalam lintasan sejarah peradaban islam. Dalam dinamika perjuangan islam dikenal beberapa tokoh islam yang didominasi oleh kaula muda islam. Al-quran telah memprasastikan suatu kisah tokoh seorang pemuda bernama Ibrahim dengan kegigihannya bertindak revoluisioner untuk memperbaiki tatanan sistem masyarakat yang rusak. Selanjutnya tentang goresan cerita Ashabul Khafi (para pemuda penghuni goa) menjadi bukti nyata pemuda islam senantiasa memilik cara demi memperjuangkan nasib suatu bangsa yang tertindas oleh kesewang-wenangan penguasa. Dalam sejarah peradaban islam, ada satu perjuangan yang sangat tampak luarbiasa yakni pada masa perjuangan Rosulullah (Muhammad SAW). Sejarah mencatat rosulullah mampu melakukan perubahan peradaban hampir separuh dunia. Dibalik kesuksesan perjuangan rosullah, pemuda pula yang menjadi kunci pencapaiannya. Ada banyak nama-nama pemuda sebagai pasukan terbaik dan selalu setia mendampingin perjungan rosulullah (Ali Bin Abu Thalib, Zubair Bin Awwam, Jakfar Bin Abu Thalib, Arqam Bin Abi Arqam, Shuhaib Ar Rumy, Zaid Bin Haritsah, Saad Bin Ali Waqqash, Usman Bin Affan, Usman Bin Said). Sejak berumur belasan tahun berjuang bersam rosulullah hingga para pemuda tersebut sedemikian lihai dan matang dalam mengelola peradaban yang besar pada masa itu.
Pemuda dalam lintasan sejarah bangsa Indonesia. The founding father bangsa Indonesia (Ir. Soekarno) pernah mengumandang satu kalimat yang seakan dipandanng sebagai sebuah kalimat apologi atau irrational logic tentang pemuda. Bahwa dalam satu pidatonya (Ir. Soekarno) menyatakan hanya butuh 10 orang pemuda untuk mengguncang dunia. Pernyataan yang mengandung spirit kepemudaan ini tentu bukan tanpa alasan dan pandangan jauh kedepan untuk bangsa Indonesia. Hal tersebut terbukti dalam sejarah peradaban Indonesia dari masa perjuangan hingga sekarang pemuda menjadi promotor. Tampak jelas peran pemuda dalam lintasan sejarah bangsa Indonesia, sejak dari peristiwa Kebangkitan Nasional (1908), peristiwa Sumpah Pemuda (1928), peristiwa Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia (1945), peristiwa lahirnya Orde Baru (1966) hingga satu momentum besar lahirnya Orde Reformasi (1998).
Kebangkitan Nasional 1908. Berdasarkan Sejarah, tonggak awal Kebangkitan Nasional disebutkan dengan diawali berdirinya Organisasi Budi Oetomo tahun 1908. Organisasi yang dimotori oleh para mahasiwa Stovia, sekolah kedokteran yang didirikan Belanda untuk anak priyayi Indonesia. Namun hal ini masih menjadi perdebatan karena Budi Oetomo tidak bersifat Nasional. Organisasi ini hanya ada di Jawa dan memang khusus diperuntukkan bagi orang Jawa. Kontroversi Sejarah tersebuttidak bisa menafikan bahwa sejak saat itu perjuangan para pemuda telah memasuki babak baru. Perjuangan melalui sarana organisasi telah dimulai. Walaupun dimulai oleh organisasi yang bersifat kedaerahan, kesadaran untuk menyatu dalam suatu bangsa sudah ada.
Sumpah Pemuda 1928. Setelah Perang Dunia I, filsafat Nasionalisme abad pertengahan, mulai merambat ke negara-negara jajahan melalui para mahasiswa negara jajahan yang belajar ke negara penjajah. Soepomo, Mohammad Hatta, dan Sutan Syahrir sudah aktif berdiskusi tentang masa depan negaranya ketika mereka masih belajar di Benua Eropa. Di dalam negeri sendiri, Soekarno sejak remaja, masa mahasiswanya bahkan setelah lulus kuliahnya, terus aktif menyuarakan tuntutan kemerdekaan bagi negerinya lewat berbagai organisasi yang tumbuh di abad 20. Pada masa ini juga banyak diciptakan lagu-lagu kebangsaan yang sarat dengan muatan semangat Nasionalisme seperti Indonesia Raya, Dari Sabang Sampai Merauke, Padamu Negeri, Maju Tak Gentar dan lain sebagainya. Dua puluh tahun setelah Kebangkitan Nasional, kesadaran untuk bersatu ke dalam satu negara, bangsa dan bahasa Indonesia, telah disadari oleh para pemuda yang sudah mulai terkotak-kotak dengan organisasi kedaerahan seperti Jong Java, Jong Celebes, Jong Sumatera dan lain-lain, kemudian diwujudkan secara nyata dengan menggelorakan Sumpah Pemuda di tahun 1928.
Proklamasi Kemerdekaan 1945. Peristiwa ini diawali dengan kenekatan para pemuda yang menculik Soekarno-Hatta ke daerah Rengasdengklok. Tindakan ini diambil oleh para pemuda dengan maksud untuk mengamankan Soekarno-Hatta dari pengaru Jepang, agar mereka mau secepatnya untuk mendeklarasikan kemerdekan Republik Indonesia. Hal ini bertujuan agar kekalahan Jepang tidak dimanfaatkan oleh Belanda untuk masuk kembali dan menjajah Indonesia lagi. Penculikan ini membawa hasil dibacakannya Proklamasi Kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945. Momen bersejarah ini menjadi tonggak penting dalam kehidupan dan kelangsungan bangsa Indonesia selanjutnya. 
Lahirnya Orde Baru 1966. Tepat 20 tahun setelah kemerdekaan, terjadi huru-hara Pemberontakan G30S/PKI dan eksesnya. Tanpa peran besar mahasiswa dan organisasi pemuda serta organisasi sosial kemasyarakatan di tahun 1966, Soeharto dan para tentara tidak mungkin bisa ‘merebut’ kekuasaan dari Orde Lama Soekarno. Tetapi syang, penguasa Orde Baru mendepak para pemuda dan mahsiswa yang telah menjadi motor utama pendorong mobil RI yang mogok, sekaligus penggantian sopir dari Soekarno ke Soeharto. Bahkan sejak akhir tahun 1970-an para mahasiswa dibatasi ruang geraknya dalam berpolitik dan didukung ke dalam ruang-ruang kuliah di kampus lewat NKK/BKK.
Lahirnya Orde Reformasi 1998. Pemerintahan Orde Baru yang walaupun secara kasat mata telah menampakkan adanya kemajuan dalam kehidupan masyarakat, sesungguhnya dibangun dengan fondasi ekonomi yang rapuh, tergerogoti oleh jejaring KKN. Krisis moneter mengawali kejatuhan pemerintah Orde Baru. Selain itu, gelombang aksi mahasiswa yang terus menggelora menjadi bagai deburan ombak yang tak pernah berhenti. Akhirnya Orde Baru pun menyerah dan perpindahan kekuasaan itu terjadi. Demikianlah, para pemuda menjadi tulang punggung sebuah peradaban. Apalah jadinya sebuah bangsa tanpa pemuda,  tanpa pemuda berkontribusi, tanpa pemuda yang sadar, tanpa pemuda yang dengan semangat cinta kepada tanah air dan bangsanya mengalahkan kecintaan terhadap dirinya sendiri.

PEMUDA SEBAGAI ASET PENERUS BANGSA
Dari lintasan sejarah bangs Indonesia, mulai dari peristiwa Kebangkitan Nasional 1908, Sumpah Pemuda 1928, Proklamasi Kemerdekaan RI 1945, Lahirnya Orde Baru 1966, Lahirnya Orde Reformasi 1989 hingga perjuangan pemuda sekarang membuktikan bahwa cacatan perjuangan pemuda Indonesia menggoreskan prasasti bertinta emas. Sehingga lahirlah suatu penegasan bahwa pemuda merupakan aset berharga bangsa Indonesia dari masa ke masa hingga saat ini pada era pasca reformasi yakni era global.
Pemuda sebagai aset bangsa Indonesia menjadi satu ungkapan yang linear dengan pernyataan pemuda sebagai penerus bangsa Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari dimensi kepemimpinan bangsa Indonesia pada setia masa. Muncul dari sebuah kata mutiara bahwasanya setiap orang (pemimpin) ada masanya, dan setiap masa pasti ada orangnya (pemimpinnya). Dapat ditarik suatu intisari dari bahasa mutiara tersebut yaitu masa hari ini memiliki pemimpin hasil produk pemuda masa kemarin, dan masa yang akan datang akan dipimpin oleh pemuda yang tentunya produk hari ini. Maka dari itu keberadaan pemuda hari ini adalah penentu masa depan bangsa Indonesia dimasa yang akan datang.
Sesuai dengan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) Republik Indonesia mencantumkan pada tahun 2035 Republik Indonesia dapat mencapai masa keemasan. Rumusan RPJPN tersebut mengalir deras di seantero bangsa Indonesia dengan didukung oleh munculnya wacana bonus demografi  yang pada puncaknya tahun 2035 atau 2040. Bonus demografi adalah pandangan kondisi keemasan bangsa Indonesia

ORIENTASI POTENSI DAN REPOSISI PEMUDA
Dalam menggapai generasi emas, secara realitas objektif yang perlu disikapi dengan serius adalah orientasi generasi muda sebagai subjek bonus demografi. Cluster pemuda di Indonesia terbagi atas 3 cluster yang meliputi ; 1) Generasi Pemuda Pengangguran, 2). Generasi Muda Pelajar, dan 3) Generasi Muda Aktivis (Aktif Organisasi). Dalam pencapaian generasi emas seharusnya pemerintah mampu merumuskan strategi dan konsepsi perberdayaan pemuda disetiap cluster. Sebenarnya pemerintah dalam hal pemberdayaan pemuda telah banyak yang dilakukan, baik itu berupa kebijakan nasional maupun kebijkan daerah (lokal wisdom). Akan tetapi pencapaian program-program pemerintah dalam perumusan pemberdayaan pemuda tersebut sangat kurang orientatf. Seharusnya orientasi program kepemudaan seharusnya memuat orientasi potensi (SDM) pemuda dan orientasi posisi (reposisis) pemuda dalam mendukung pembangunan khususnya pembangunan daerah. Perumusan orientasi tersebut merepukan wewengan dan kewajiban Kementerian Pemuda dan Olahraga (MENPORA) secara nasional dan Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (DISBUDPARORA) untuk skala daerah.
Ada dua hal yang harus menjadi prioritas pemerintah khususnya pemerintah daerah sebagai eksekutor dalam merumuskan kebijakan kepemudaan. Dua hal tersebut meliputi :
1.      Rumusan Kebijakan yang berorientasi pada pengembangan dan penataan potensi (SDM) pemuda didaerah yang sesuai dengan rumusan kebijakan pembangunan daerah dan Rencana Pembangunan Nasional Republik Indonesia.
2.      Rumusan Kebijakan yang berorientasi pada penataan posisi/ reposisi pemuda dalam hal mendukung dan berperan aktif menyukseskan pembangunan daerah sesuai Rencana Pembangunan Nasional Republik Indonesia .
 
luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.comnya.com tipscantiknya.com