POSISI
MAHASISWA DALAM MENGHADAPI MEA
Oleh : M. Fahru Rosy
Ketua Umum HMI Cabang
Sumenep Komisariat STKIP PGRI Sumenep
Jurusan PBSI STKIP PGRI
Sumenep
Masyarakat
ekonomi asean (MEA) adalah hasil keputusan dan ketetapan dari sebuah
kesepakatan yang telah di buat oleh negara-negara ASEAN dalam pemberian piagam ASEAN yang di sahkan pada tahun 2007 dengan melibatkan 10 negara yang ada di ASEAN,
dan di berlakukan pada penghujung tahun 2015. Dalam artian MEA merupakan
kerjasama regional asia tenggara di bidang ekonomi yang di transformasikan
menjadi kesatuan kekuatan baik sebagai pasar tunggal maupun pusat produksi yang
bertujuan agar negara-negara yang berada di asean, tujuan di adakan hal
tersebut agar negara-negara yang berada di asean menjadi kawasan ekonomi yang
mampu berdaya saing di pasar global.
Harus kita sadari bahwa MEA bukanlah sebuah event. Akan tetapi merupakan
sebuah proses bagi setiap Negara agar mampu untuk bersaing dengan adanya pangsa
pasar yang semakin bebas akan membuat setiap negara lebih leluasa dalam mengalirkan barang, jasa, investasi, modal dan
tenaga kerja terampil akan diberlakukan secara resmi,
apabila tidak dilakukan persiapan akan menjadi ancama bagi setiap Negara itu sendiri sehingga
akan terbawa pada arus deras pasar global
Indonesia telah melakukan berbagai upaya
persipan dalam menghadapi MEA 2015 seperti penyusunan MP3EI, program keuangan
inklusif, perbaikan regulasi terkait investasi asing dan telah melakukan
kampanye penggunaan produk nasional hilirasi industri nasional, selain itu
pemerintah juga sudah menerbitkan dan mengimplementasikan inpres No. 11 tahun
2011 tentang pelaksanaan komitmen cetak biru masyarakat ekonomi ASEAN dan
inpres No. 6 tahun 2014 tentang peningkatan daya saing indonesia.
Sementara itu di tataran ASEAN, indonesia
masih terlihat pada capaian ASEAN economic Community (AEC) scorecard telah mencapai 84,1% di atas rata-rata ASEAN
yang sebesar 81.1%. namun demikian capaian Indonesia tersebut masih di bawah sebagian
Negara anggota ASEAN mengingat magnitude Indonesia yang lebih besar dan
komplek.
Dan jika dilihat dari kwalitas sumber daya manusia
indonesia masih dalam peringkat 6 dari 10 negara yang berada di asean, jauh dari singapura dan malaysia.
Dan
posisi perguruan
tinggi yang ada di indonesia
juga belum mampu setara dengan pendidikan tinggi di negara-negara jiran yang di
mana hari ini sebagai pusat pendidikan, sedangkan sebagian kita ketahui dari tahun ketahun
angka pengangguran di Indonesia semakin meningkat, itu
menandakan bahwa perlu adanya
peningkatan persiapan sumber daya manusia, karena kunci dari kemajuan sebuah
bangsa bukan karena kekayaan alamnya melaikan sumber daya manusia yang ada di
dalamnya.
Maka dari itu dalam menyelesaikan segala permasalahan
yang ada perlu adanya solusi yang dibutuhkan, perguruan tinggi sebagai pencetak
tenaga pengajar harusnya mampu memberikan kontribusi besar dengan apa yang
dihadapi oleh Negara Indonesia saat ini, maka dari itu perlu adanya perubahan system
kurikulum dalam meningkatkan tenaga pengajar sehingga dapat setara dengan perguruan
tinggi yang ada di negara-negara luar sana dan mampu mencetak output yang siap
bersaing dalam pangsa pasar bebas.
Disisi
lain Mahasiswa
sebagai kaum intelektual yang lebih memiliki kesadaran lebih tinggi dalam dunia
masyarakat haruslah mampu menyadari atas tanggung jawabnya sebagai agen of
change yang sangat berperan penting dalam kemajuan sebuah bangsa khususnya
bangsa Indonesia yang saat ini sedang menghadapi MEA, ada beberapa hal yang
harus mampu dilakukan mahasiswa demi menjawab sebuah tantangan zaman yang saat
ini semakin bebas ini, mahasiswa harus mampu merubah diri dengan cara
meningkatan softskill dalam berbahasa asing harus mampu di kuasai serat dapat
mengembangkat bakat individu sebagai penguatan diri dalam bersaing. Dan dari
segala pemahaman yang di dapat tentang MEA mahasiswa diharap mampu berinteraksi
dengan masyarkat dengan menggunakan berbagai macam cara baik itu berupa woksop
kewirausahaan, membangun desa binaan untuk memberikan kecerdasan terhadap
masyarakat dalam menghadapi MEA
- Merubah “mindset” konsumtif menjadi produktif sehingga kita bisa mengurangi pengeluaran dan memperbesar pemasukan bagi Negara kita
- Meningkatkan “competitiviness” produk yang akan berpengaruh pada ketertarikan konsumen akan produk yang kita hasilkan dengan kwalitas terjamin
- Diversifikasi dan peningkatan nilai tambah bahan baku dari sumber daya alam yang melimpah menjadi produk berorientasi ekspor.
- Mempersiapkan lulusan perguruan tinggi yang mampu berkompetisi minimal di tingkatan ASEAN (kedepannya semua profesi harus memiliki sertifikat tingkat ASEAN) dan tiap tenaga professional memiliki semangat tinggi.
- Mengubah “mindset” pegawai menjadi entrepreneur (pengusaha) sehingga diharapkan akan muncul pengusaha baru yang dapat menciptakan lapangan kaerja dan memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia secar mandiri sehingga tidak bergantung terhadap Negara lain.







0 komentar:
Posting Komentar