RINGKASAN
Kabupaten
Sumenep sebagai kabupaten paling ujung timur pulau Madura memiliki masyarakat
buta IT sangat tinggi bahkan pada jajaran pemerintah desanya hampir dapat
dikatakan 90% mengalami buta IT. Padahal jika dilihat dari pola manajemen desa,
banyak hal yang harus dikelola dengan bantuan IT untuk efektivitas dan
efisiensi waktunya. Misal pengelolaan anggaran desa, pengelolaan administrasi,
akuntablelity, presentasi hingga pelaporan yang membutuhkan software IT. Banyak
software yang tersedia untuk mengelola hal-hal tersebut salah satunya Microsoft
Office. Akan tetapi permasalahan sentralnya kembali lagi terhadap sumber daya
penggunanya yang kurang mumpuni.
Maka program ini
tim penulis memfokuskan pada program pengabdian masyarakat untuk memberikan
pelatihan Microsoft Office pada aparatur desa ditiap-tiap kecamatan, kecamatan
yang dipilih yakni kecamatan Ambunten. Program ini bernama Pelatihan Microsoft Office
Aparatur Desa di Kecamatan Ambunten menuju E-Goverment. Secara geografis pula kecamatan Ambunten berpotensi di sektor
maritim dan pertanian. Sehingga profesi masyarakat mayoritas nelayan dan
petani. Dengan potensi alam kecamatan Ambunten yang sangat besar sangat
berpotensi untuk dikelola secara berkelanjutan dengan SDM yang memadai. Luaran
yang diharapkan dalam program ini yaitu terciptanya media pengembangan SDM
khususnya aparatur desa dalam memahami dan mengelola IR untuk kepentingan
manajerial pemerintahan desa. Sehingga aparatur desa dapat professional dalam
mengelola menajerial desa dan perkembangan IT dapat dirasakan dan diterapkan
secara merata serta tepat guna.
Untuk suksesnya
program ini maka dirumuskan metode pelaksanaan yang strategis yang meliputi :
Konsultasi, Observasi, Administrasi, Realisasi hingga pada metode yang terakhir
yaitu Evaluasi program untuk melihat ketercapaian program.
BAB
1 PENDAHULUAN
A.
JUDUL
PROGRAM
Program
ini merupakan program kreatifitas mahasiswa (PKM) dibidang Pengabdian
Masyarakat dengan judul “ Pelatihan Microsoft Office Aparatur Desa
Kecamatan Ambunten menuju E-Goverment ”.
B.
LATAR
BELAKANG MASALAH
Perkembangan
teknologi dari waktu ke waktu semakin pesat. Perkembangan tersebut tidak hanya
pada tatanan elite-elite tertentu akan tetapi sampai pada tatanan lokal. Hal
tersebut terlihat dari pola hidup masyarakat lokal yang serba teknologi. Bahkan
teknologi tidak lagi dipandang sebagai kebutuhan tersier akan tetapi sudah
menjadi kebutuhan primer dalam era global dan serba modern ini. Baik teknologi
komunikasi, komputasi, pelaratan rumah tangga, dan lain sebagainya.
Perkembangan
teknologi harusnya selaras dengan perkembangan sumber daya manusia sebagai
pengguna teknologi. Sehingga tujuan daripada teknologi yakni sebagai alat untuk
membantu meringankan pekerjaan manusia dapat tercapai. Namuan realita yang
terjadi di Indonesia brainware (penggunanya) belum siap secara keseluruhan
dalam menerima perkembangan teknologi yang sangat pesat. Akibatnya perkembangan
teknologi disebagian tempat di Indonesia khususnya kabupaten Sumenep menjadi
tidak tepat guna. Secara data survei PT. Telkom kabupaten Sumenep 70%
masyarakat Sumenep mengalami buta IT (PT. Telkom, Survei Melek IT, 2013). Yang
menjadi sangat miris buta IT ini tidak hanya disandang oleh masyarakat biasa
namun jajaran pemerintah lapisan bawahpun (aparatur desa) mengidap buta IT. Padahal
dengan adanya UU no 6 tahun 2014 tentang Desa, menuntut aparatur desa untuk
paham dengan pengelolaan manajerial secara IT untuk memperoleh hasil
pengelolaan yang valid dan lebih professional.
Kabupaten
Sumenep sebagai kabupaten paling ujung timur pulau Madura memiliki masyarakat
buta IT sangat tinggi bahkan pada jajaran pemerintah desanya hampir dapat
dikatakan 90% mengalami buta IT. Padahal jika dilihat dari pola manajemen desa,
banyak hal yang harus dikelola dengan bantuan IT untuk efektivitas dan
efisiensi waktunya. Misal pengelolaan anggaran desa, pengelolaan administrasi,
akuntablelity, presentasi hingga pelaporan yang membutuhkan software IT. Banyak
software yang tersedia untuk mengelola hal-hal tersebut salah satunya Microsoft
Office. Akan tetapi permasalahan sentralnya kembali lagi terhadap sumber daya
penggunanya yang kurang mumpuni. Maka program ini tim penulis memfokuskan pada
program pengabdian masyarakat untuk memberikan pelatihan Microsoft Office pada
aparatur desa ditiap-tiap kecamatan. Besar harapan tim penulis program ini
dapat dilaksanakan secara merata se-kabupaten Sumenep, namun dngan adanya beberapa kendala salah
satunya tenaga maka program ini akan dilakukan secara bertahap. Namun pada
program PKM-M ini memilih suatu kecamatan yang dinilai sangat tinggi tingkat
buta IT pada aparatur desanya. Kecamatan yang dipilih yaitu kecamatan Ambunten
dengan tingkat buta IT aparatur desanya mencapai 90%.
C.
PERUMUSAN
MASALAH
Sesuai
latar belakang diatas dapat diperoleh rumusan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana
kondisi tingkat pemahaman IT aparatur desa kecamatan Ambunten?
2. Apa
yang perlu dipersiapkan dalam pelakasanaan program pengabian masyarakat untuk
pelatihan Microsoft Office pada Aratur Desa?
3. Bagaiaman
metode yang diterapkan dalam merealisasikan program pengabian masyarakat untuk
pelatihan Microsoft Office pada Aratur Desa?
D.
TUJUAN
PROGRAM
Setelah
melihat rumusan masalah diatas dapat diketahui tujuan dari program ini yaitu :
1. Menjelaskan
tentang kondisi kondisi tingkat pemahaman IT aparatur desa kecamatan Ambunten.
2. Mengetahui
hal-hal yang perlu dipersiapkan dalam pelakasanaan program pengabian masyarakat
untuk pelatihan Microsoft Office pada Aratur Desa.
3. Menjelaskan
tentang metode yang diterapkan dalam merealisasikan program pengabian
masyarakat untuk pelatihan Microsoft Office pada Aratur Desa.
E.
LUARAN
YANG DIHARAPKAN
Luaran
yang diharapkan dalam program ini yaitu terciptanya media pengembangan SDM
khususnya aparatur desa dalam memahami dan mengelola IR untuk kepentingan
manajerial pemerintahan desa. Sehingga aparatur desa dapat professional dalam
mengelola menajerial desa dan perkembangan IT dapat dirasakan dan diterapkan
secara merata serta tepat guna.
F.
MANFAAT
PROGRAM
Ada
dua bentuk manfaat pada program pengabian masyarakat untuk pelatihan Microsoft
Office pada Aratur Desa ini, yang meliputi :
1. Manfaat
Teoritis
Dengan
adanya program ini, perkembangan teknologi informasi tepat guna dapat
direalisasikan dengan baik dan sukses. Sehingga dapat menopang keselarasan
perkembangan Teknologi informasi.
2. Manfaat
Praktis
-
Manfaat Bagi Aparatur Desa
Dengan
pelatihan ini maka Aparatur desa memperoleh pengaetahuan IT sehingga dapat
menyelenggarakan manajerial desa dengan professional.
-
Manfaat Bagi Masyarakat
Dengan
terbentuknya aparatur desa yang professional, masyarakatpun dapat merasakan
manfaatnya yaitu dapat memperoleh layanan desa yang maksimal sesuai dengan
kebutuhan.
-
Manfaat bagi tim peneliti.
Tim
dapat memperoleh pengetahuan baru terkait kondisi masyarakat Sumenep khususnya
Kecamatan Ambunten. Serta dapat mengembangkan jiwa pengabdian sesuai yang
diamanahkan oleh tri dharma perguruan tinggi.
BAB
2 GAMBARAN UMUM MASYARAKAT SASARAN
A.
Letak
Geografis Kecamatan Ambunten.
Ambunten terletak pada KM ke-20 sebelah
utara Kabupaten Sumenep. Secara geografis kecamatan Ambunten termasuk daerah
yang jauh dari akses perkotaan. Kecamatan Ambunten terdiri dari 15 desa
(Ambunten barat, Ambunten Tengah, Ambunten Timur, Beluk Ares, Beluk Kenek,
Beluk Raja, Bukabu, Campor Barat, Campor Timur, Keles, Sogian, Tambaagung Ares,
Tambaagung Barat, Tambaagung Tengah, Tambaagung Timur) (Godam- Daftar Nama
Kecamatan Kelurahan/Desa & Kodepos Di Kota/Kabupaten Sumenep Jawa Timur, Online).
Batas selatan kecamatan Dasuk, batas timur kecamatan Rubaru, dan batas barat
kecamatan Pasongsongan sebagai kecamatan batas kabupaten Sumenep dan kabupaten
Pamekasan.
Secara geografis pula kecamatan Ambunten berpotensi di sektor
maritim dan pertanian. Sehingga profesi masyarakat mayoritas nelayan dan petani.
Dengan potensi alam kecamatan Ambunten yang sangat besar sangat berpotensi
untuk dikelola secara berkelanjutan dengan SDM yang memadai.
B.
Kondisi
SDM Aparatu Desa di Kecamatan Ambunten
Dengan potensi alam yang melimpah
dikecamatan Ambunten perlu adanya suatu pengelolaan yang profesional.
Perkembangan teknologi yang pesat menuntut pengelolaan desa yang selaras dengan
perkembangan tersebut. Mulai dari manajerial secara administrasi serta
akuntablelity dalam pengelolaan desa-desanya. Namun pada realitasnya SDM
aparatur desa kecamatan Ambunten yang bertugas untuk mengelola tersebut
sangatlah minim, apalagi dihadapkan terhadap pengelolaan manajerial berbasis
teknologi. Setelah disebar 45 angket pada aparatur desa, 85% responden
menyatakan tidak paham tentang teknologi (data angket tim peneliti).
Dengan melihat kondisi dilapangan masih
banyak sekali pengelolaan manajerial di desa-desa kecamatan Ambunten yang
dikelola secara manual, misal ; administrasi dengan mesin ketik; akuntablelitas
anggaran dikelola dnegan penghitungan kalkulator sehingga menimbulkan margin
eror yang tinggi. Padahal secara perkembangan teknologi telah disiapkan
software-software pembantu pengelolaan manajerial yang lebih praktis dan
tentunya dengan margin eror yang sangat kecil.
Bantuan pengadaan sarana prasarana
teknologi berupa komputer telah tersedia diberbagai desa di kecamatan Ambunten.
Akan tetapi sarana prasarana hanya menjadi barang rongsokan karena tidak pernah
dipergunakan dan dioperasikan. Hal ini terjadi karena alasan sebagaimana ulasan
sebelumnya yaitu SDM aparatur desa yang sangat miris. Ketika mengingat kembali
kebutuhan masyarakat khususnya surat-menyurat desa yang sering kali mendesak
membuat aparatur desa kewalahan dengan pengelolaan yang masih serba manual.
Maka dari itu pemahaman teknologi khususnya office administration perlu
dilakukan agar terbentuk aparatur desa yang profesional dalam manajerial
pengelolaan desa, sehingga kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi.
BAB
3 METODE PELAKSANAAN
Metode pelaksanaan yang dilakukan pada
program ini meliputi beberapa tahapan metode berikut :
A.
Konsultasi
Metode ini dilakukan untuk penyusunan
perencanaan awal sehingga program ini dapat dilaksakan secara professional.
Konsultasi ini dilakukan pada dosen pembimbing, baik dari segi pelaksanaan
program ataupun dalam rangka penyusunan proposal. Setelah seluruh konsep
program PKMM ini maksimal, selanjutnya proposal dapat direvisi dan disusun
dengan sistematika dan konsep yang baik sesuai arahan dosen pembimbing.
B.
Observasi
Metode ini dilakukan pada awal
pelaksanaan pembinaan. Tim PKMM
melakukan survey ke lapangan (objek) dan wawancara dengan Camat kecamatan
Ambunten, beberapa kepala desa, mencari informasi tentang apratur desa buta IT
yang dihadapi oleh aparatur desa-desa dikecamatan Ambunten. Hal ini dilakukan
oleh tim untuk mempermudah tim dalam memahami kondisi peserta serta mencoba
melakukan adaptasi dengan peserta. Selain itu untuk mempermudah tim dalam
menentukan solusi-solusi dalam pembelajaran nantinya.
C.
Administrasi
Metode ini merupakan metode dimana hasil
konsultasi dan observasi dapat dirumuskan. Sehingga dapat menghasilkan
data-data acuan dalam pelaksanaan program PKMM ini. Baik penentuan jadwal ,
list kebutuhan, anggaran hingga surat menyurat. Dalam penyusunan administrasi
ini unsur yang cukup penting yakni surat-menyurat: surat perijinan, surat
pemberitahuan, surat rekomendasi dari camat untuk pelaksanaan dan lain
sebagainya. Selain surat-menyurat sebagaimana diatas, yang juga harus
dirumuskan yaitu metode penjadwalan pelaksanaan yang akhirnya disajikan pada
tabel berikut :
No
|
Jadwal
/ Waktu Pelaksanaan
|
Desa-Desa
Sasaran
|
1
|
Bulan
1, Minggu 3 dan 4
|
Ambunten
barat, Ambunten Tengah, Ambunten Timur.
|
2
|
Bulan
2, Minggu 1 dan 2
|
Beluk
Ares, Beluk Kenek, Beluk Raja.
|
3
|
Bulan
2, Minggu 3 dan 4
|
Bukabu,
Campor Barat, Campor Timur, Keles.
|
4
|
Bulan
3, Minggu 1 dan 2
|
Sogian,
Tambaagung Ares.
|
5
|
Bulan
3, Minggu 3 dan 4
|
Tambaagung
Barat, Tambaagung Tengah, Tambaagung Timur
|
D.
Realisasi
/Pelaksanaan
Pelaksanaan pelatihan
dalam program ini kepada para peserta dilakukan dengan beberapa sub latihan.
Terlebih dahulu dilakukan dengan mengelompokkan desa, kemudian kelompok desa
tersebut diarahkan jadwal tertenu. Metode pengajaran yang dilakukan 30% materi
70% Praktek. Ada 3 materi yang diberikan yaitu Microsoft Office Word, Microsoft Office Excel, dan Microsoft Office
Powerpoin. Kegiatan dilaksanakan selama sepuluh (10) minggu dimana setiap
kelompok desa akan diisi sebanyak dua
(2) kali pertemuan dengan dua minggu durasi waktu pengajaran sekitar dua (7)
jam dalam setiap pertemuan dan masalah jadwal pelaksanaan kita sesuaikan dengan
jadwal yang sudah dirumuskan. Jadwal kegiatan acara penulis rumuskan sebagai
berikut:
Minggu Pertama
No
|
Waktu
|
Acara
|
1
|
Pukul 09.00 – 11.30 WIB
|
Pemahaman Materi Microsoft Office
Word, Excel, dan Powerpoint
|
2
|
Pukul 11.30 – 12.30 WIB
|
Ishoma
|
3
|
Pukul 12.30 – 15.00 WIB
|
Praktek Microsoft Office Word
|
Minggu Pertama
No
|
Waktu
|
Acara
|
1
|
Pukul 09.00 – 11.30 WIB
|
Praktek Microsoft Office Excel
|
2
|
Pukul 11.30 – 12.30 WIB
|
Ishoma
|
3
|
Pukul 12.30 – 15.00 WIB
|
Praktek Microsoft Office Powerpoint
|
Dengan waktu yang cukup
singkat ini dan metode yang kami gunakan tim optimis masyarakat sudah bisa
paham terhadap office administration dalam rangka pengolahan manajerial administrasi
dan akuntablelitas desa-desa dikecamatan Ambunten.
E.
Evaluasi
Evaluasi dilakukan dua kali. Evaluasi
pertama dilakukan untuk mengetahui daya tanggap peserta terhadap pelajaran
memahami dan praktek microsoft Office Word, Excel dan Powerpoin. Evaluasi kedua
dilakukan untuk mengetahui Keberhasilan program yang diterapkan pada aparatur
desa buta IT di desa-desa pada kecamatan Ambunten. Untuk menilai sejauh mana
program yang lakukan berjalan sesuai
dengan tujuan yang dirumuskan diawal program.








0 komentar:
Posting Komentar